Articles by "budaya"
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Portal Berita Terkini

 Setelah produk kopi asal Tanah Gayo, meliputi Aceh Tengah dan Bener Meriah, mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 28 April 2010, Kopi Arabika Gayo didaftarkan kembali untuk mendapatkan Indikasi Geografis Kopi Arabika Gayo di Uni Eropa.


"Pada 26 Oktober lalu, Kopi Gayo sudah didaftarkan di perdagangan kopi internasional Eropa, dan alhamdulillah untuk label dalam arti kata merk dagang dan juga lambangnya sudah mendapatkan pengakuan," Kata Bupati Aceh Tengah Nasaruddin dalam konferensi pers di Pendopo Bupati Aceh Tengah, Senin (16/11/2015) malam.



Nasaruddin mengatakan, menurut Kemenkumham Dirjen Kekayaan Intelektual (HKI), pendaftaran sertifikat Indikasi Geografis tersebut dilakukan dalam minggu ini.



"Mulai hari ini sertifikatnya sedang didaftarkan oleh Duta Besar Indonesia untuk Belgia, beliau mendaftarkan merk Arabika Gayo," ujarnya.



"Kalau ini terjadi, maka di Uni Eropa tidak boleh lagi ada kopi yang menggunakan label 'Gayo', karena masih ada klaim merk oleh perusahaan Belanda yang dulu namanya Gayo Mountain Coffee, dengan pendaftaran yang kita lakukan di dalam negeri, maka mereka tidak boleh lagi menggunakan label Gayo, namun perusahaan ini sudah tidak aktif lagi," lanjut dia.



Dia menambahkan, ada sebuah perusahaan dari Afrika Selatan yang membuat merk dengan label Kopi Gayo. Setelah pendaftaran ini, lanjutnya, mereka tidak akan boleh lagi menggunakan nama atau merk Kopi Gayo.



"Dengan didaftarkan dan sudah diterimanya merk dagang Kopi Gayo di Uni Eropa, maka tidak ada lagi perusahaan di luar yang menggunakan merk tersebut," pungkas Nasaruddin.
Portal Berita Terkini


Seni tradisi Didong Gayo dan Kerawang Gayo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. 

Bukti sertifikat pengakuan dua warisan budaya tersebut telah diterima oleh Pemerintah Aceh Tengah pada 28 November lalu, setelah diserahkan oleh Asisten III Pemerintah Aceh, Syahrul.

"Warisan budaya tak benda ini bermakna, segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia, satu lagi ada warisan budaya benda, sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT, tidak ada campur tangan manusia di situ," ungkap Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin, Rabu (2/12/2015).

Dia menyampaikan itu pada kegiatan resepsi syukuran penganugerahan Didong dan Kerawang Gayo sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang digelar di Gedung UMMI Pendopo Bupati setempat.

"Kepada pencipta lagu (syair) didong, demikian ceh (vokalis) juga, kita minta supaya syarat-syarat didongnya diperhatikan, suara cehnya juga harus diperhatikan," kata Nasaruddin.

Di hadapan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh Tengah itu, Bupati menyampaikan bagaimana perkembangan didong saat ini. 

Pemerintah daerah juga merencanakan pemakaian batik bermotif Kerawang Gayo bagi PNS yang bekerja di lingkungan pemerintahan.

"Nanti tentu didesain dulu yang sederhana yang bisa dipakai untuk ke kantor selama sehari, nanti kita atur apakah hari Jumat atau hari Sabtu," kata Nasaruddin lagi.

Dia juga menjelaskan, pemasaran Kerawang Gayo di daerah ini belum dilakukan secara maksimal. Sebab, perajin Kerawang Gayo belum terorganisasi dengan baik.

"Mudah-mudahan mulai Januari tahun depan sudah ada tempat, mekanismenya bisa diatur oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan," lanjut dia.

Secara simbolis kedua sertifikat diserahkan Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin kepada Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah, Hamdan, di Gedung UMMI Pendopo Bupati setempat.

Penyerahan turut disaksikan unsur pimpinan daerah, pimpinan organisasi wanita, tokoh masyarakat, seniman didong, pelaku industri kerawang dan segenap pimpinan Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) setempat.

Didong dan Kerawang Gayo menjadi dua dari 11 Warisan Budaya Tak Benda yang diterima oleh Pemerintah Aceh kali ini.

Didong adalah seni tradisi masyarakat Gayo yang masih ditampilkan di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, Aceh. 

Didong adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Seni berkelompok ini biasanya dimainkan oleh maksimal 25 orang, sudah termasuk satu hingga tiga orang ceh, yang diiringi tepukan tangan pengiringnya.

Sedangkan Kerawang atau sering disebut "Kerawang Gayo" (Penuturan dalam Bahasa Gayo) adalah busana adat Suku Gayo yang biasanya dipakai saat melangsungkan acara resepsi pernikahan, acara tarian adat, dan budaya secara turun-temurun
Portal Berita Terkini


 Masyarakat dari empat kabupaten di daerah Dataran Tinggi Gayo, Provinsi Aceh menggelar silaturrahmi budaya yang akan berlangsung di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu malam.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari silaturrahmi dengan masyarakat gayo se Aceh dan juga turut menghadirkan sejumlah kesenian dari Dataran Tinggi Gayo," kata Bendahara Panitia Ansyari Munthe di Banda Aceh, Sabtu.
Ia menjelaskan kegiatan silaturrahmi masyarat dari empat kabupaten yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara yang berlangsung di Banda Aceh itu juga akan dihadiri Gubernur Aceh, Zaini Abdullah.
"Kegiatan seni yang ditampilkan ini dari empat kabupaten yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo dan ini juga bagian dari mengenal dan keterikatan semakin kuat dengan semua komponen," katanya.
Ansyari yang turut didampingi ketua panitia Dihansyah mengatakan acara bertajuk "Ratip Musara Anguk. Nyawa Musara Peluk" itu akan menampilkan sejumlah kegiatan seperti tari Saman, pelebat, Guel, Bang Kandar, Didong, Sopan Sofyan, Ervan Ceh Kul dan pepongoten.
Pihaknya memperkirakan undangan yang akan hadir pada kegiatan silaturrahmi masyarakat Gayo tersebut mencapai tiga ribu sampai lima ribu orang.
"Kami targetkan tamu yang akan dihadir nantinya dari Banda Aceh, Aceh Besar, dan empat daerah daratan tinggi gayo tersebut bisa mencapai lima ribu orang serta dari seluruh kabupaten/kota di Aceh," katanya.
Ketua panitia, Dihansah mengatakan kegiatan yang digelar tersebut bagian mempererat silaturahmi antara empat daerah tersebut.
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu - Destinasi wisata halal yang dipromosikan Aceh masih sebatas label. Banyak fasilitas dan tempat wisata belum memenuhi kriteria halal. 

Ruang berukuran seluas lapangan tenis dibangun tepat di sudut kiri Hermes Palace Hotel. Tidak jauh dari basement. Sekilas, hanya ruangan biasa saja. Di atas pintu ruangan tertempel huruf bertuliskan Musala Al-Muhajirin.

Wisata Halal hanya sebatas Label
Hermes Palace Hotel
Siang itu, beberapa pria berkemeja sibuk membetulkan kaus kakinya di bangku petak memanjang—seukuran dua depa—yang berada depan ruangan. Mereka baru saja keluar dari ruangan itu.  Pikiran Merdeka sempat masuk ke dalamnya. Meski dilengkapi AC, hawa pengap tetap terasa saat memasuki pintu bercat hitam dengan gagang almunium putih. Tiga helai musala bermotif mesjid dibentangkan memanjang. Posisinya miring menghadap kiblat.

Banyak yang tidak menduga bahwasannya ruangan sebesar lapangan tenis tersebut merupakan mushala. Beberapa pengunjung pun bahakan kewalahan dan kebingunan saat berkunjung ke hotel tersebut.

“Masak seperti itu ruangnya. Di saat waktu salat tiba, saya harus menuruni beberapa lantai hotel untuk menuju ke sana,” tutur FZ, saat ditanyai oleh seseorang wartawan

Dia menilai bahwasannya Hotel sekelas itu tidak layak disebut bintang empat jika mushala nya seperti itu. Pasalnya, tata letak dan jarak mushala itu jauh dari jangkauan pengunjung, “Ini kesannya mushala tersebut hanya dibuat seadanya. Maunya kan harus mudah diakses, terus jangan berdekatan dengan basement. Kan ini tempat beribadah, masa di bawah,” tutur pengunjung tersebut.

Tidak jauh beda dengan tetangganya Hotel Hermes Palace Hotel yang juga termasuk dalam list hotel megah yaitu Hotel Grand Nanggroe. Hotel yang berada di daerah Jalan Panglima Nyak Makam, Banda Aceh ini, juga memiliki masalah yang sama dengan hotel hermes sebelumnya.

Dua sample hotel yang berada di Banda Aceh tentunya berbanding terbalik dengan promosi Destinasi Wisata Halal dan penghargaan yang didapatkan Aceh melalui Kompetisi Wisata Halal Nasional (KPHN). Selain itu, salah satu syarat wisata halal ialah mengedepankan pelayanan berbasis islami di segala bidang, termasuk perhotelan.

Ironisnya lagi, Hermes Palace Hotel yang menyandang level bintang empat tersebut sempat mengikuti ajang yang digelar oleh Tim Percepatan Perkembangan Wisata Halal Kementrian Pariwisata, tahun ini.

Terkesan sekali, hotel-hotel di Banda Aceh belum siap menyambut tamu yang ingin menikmati destinasi wisata halal di Aceh. Padahal, kunjungan wisatawan ke Aceh juga terus melonjak.

Data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus naik tajam mencapai 177 persen dibanding Juli 2016 yakni dari 2.363 orang menjadi 6.552 orang.

Dalam laman web milik Disbudpar Aceh (Dinas Budaya dan Pariwisata Aceh ), Kepala BPS Aceh Wahyuddin menuturkan, peningkataan jumlah kunjungan ini tidak terlepas dari meningkatnya promosi dan beragam kegiatan yang diselenggarakan di Aceh.

Ia menjelaskan, jumlah kunjungan tersebut juga naik signifikan jika dibanding dengan periode yang sama pada tahun 2015 dengan kenaikannya mencapai 216 persen. “Secara kumulatif, Januari-Agustus 2016 jumlah tamu asing yang melancong ke Aceh mencapai 28.760 orang atau meningkat 66,41 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” katanya.

SUDAH MENGIMBAU

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi tidak menapik adanya beberapa fasilitas dan pelayanan wisata yang belum mencerminkan nilai-nilai islami, termasuk belum terpenuhinya sarana ibadah di hotel-hotel. Kenyataan tersebut dikarenakan pihak pengelola hotel belum sepenuhnya menyahuti program distinasi wisata halal yang sudah dicanangkan.

Menurut Reza Fahlevi, sejak awal promosi wisata halal, pihaknya telah berupaya mensosialisasi dan menghimbau agar sejumlah hotel, rumah makan, dan cafe untuk segera memperbaiki fasilitas dan pelayanan yang lebih islami untuk menuju wisata halal yang bakal dipromosikan.

“Mudah-mudahan dengan momentum adanya lebelisasi dan sertifikasi wisata halal ini dapat mendorong mereka untuk memperbaiki. Sebuah restoran ataupun hotel itu, ketika mau lebel halal mereka sudah harus memperbaiki segala kualitasnya, baik dari segi makanan maupun kenyamanan,”  tutur nya disampaikan kepada teman teman wartawan


Sementara itu, terkait fasilitas musala yang erat kaitannya dengan wisata halal Aceh tersebut, Pikiran Merdeka juga mengkonfirmasikan kepada Ketua Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh Karim Syeh. Sayangnya, saat dihubungi ke nomor ponsel yang biasa digunakannya, dia mengaku bukan ketua MPU.(/smod)
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu - Media sosial telah membuat perubahan yang signifikan dalam hidup kita. Begitu juga dalam hal percintaan. Tak sedikit yang bertemu dengan jodoh lewat media sosial, bisa menjadi lebih intim, namun juga tak sedikit yang dilanda badai asmara.

Apa yang Anda tampilkan adalah apa yang dilihat oleh orang lain. Orang bisa saja menghujani like, favorite, atau me-retweet sebanyak mungkin, ketika Anda mengunggah foto atau menulis status tentang pasangan, lantas menobatkan Anda sebagai relationship goal mereka. Akan tetapi, yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di antara Anda dan pasangan hanyalah Anda berdua.

Tantangan Cinta Era Sosial Media

Memicu terlalu banyak kekhawatiran. Sibuk memantau media sosial dan aktivitas pasangan di online juga bisa berakibat buruk pada hubungan. Bagaimana jika pasangan memberi "like" pada foto profil temannya yang perempuan? Pasangan mendapat mentiondari perempuan yang mengagumi kesuksesannya? 
Dan banyak lagi jenis kecemburuan yang bisa muncul karena aktivitas media sosial, yang mungkin sebetulnya tidak mengarah pada perselingkuhan.Lebih serius memikirkan foto mana yang perlu diunggah ketimbang memikirkan cara untuk membuat hubungan menjadi lebih mesra. Harus diakui, punya foto berdua dengan pasangan memang sangat menyenangkan (dan membanggakan). Makan bareng di restoran, nonton bioskop, pergi kondangan, baju senada, karaoke di mobil, dan banyak lagi momen lainnya yang sayang jika tak diabadikan. 


Dalam setiap momen, kita pun lantas sibuk untuk memotret, lalu memilah dan memilih foto mana yang akan kita unggah segera. Sebegitu niatnya, sampai-sampai seringkali orang melupakan esensi dari keintiman dan usaha merawat keintiman itu sendiri, bukan mengejar banyaknya "like" dan pengakuan dari publik. 

Unggah foto berdua terlalu sering bisa membuat kita kebablasan. Awalnya unggah sesekali, mendapat banyak komentar dan pujian dari orang lain tanpa sadar membuat kita terlena dan ingin selalu unggah. Tahukah Anda, orang lain juga bisa terganggu dengan status kita yang mengumbar PDA (Public Display Affection) atau keintiman di media sosial. Sayang kan, kalau sampai kehilangan teman, gara-gara di unfriend atau unfollow mereka?

Media penyaluran tentang apa yang dirasakan pindah ke status media sosial. Grafik cinta bisa naik dan turun adalah hal yang wajar. Perasaan kita bisa berubah-ubah, seiring mood. Itulah kenapa, penting sekali saling mengkomunikasikan apa yang sedang kita rasakan dengan pasangan. Apa yang kita sukai dan tidak kita sukai dari pasangan. Namun, sayangnya, komunikasi ini telah banyak digantikan oleh update status. Hubungan Anda dan pasangan pun ibarat open book, yang sudah diketahui semua orang. Malah kadang, bukannya pasangan yang tahu masalah Anda, malah publik lebih tahu duluan.

Pertengkaran rentan pindah ke online. Argumentasi dan konflik biasa terjadi dalam hubungan asmara. Hal ini tidak perlu ditakutkan, sebab tidak semua konflik itu berarti "akhir dunia". Dengan catatan, hindari pertengkaran itu berpindah ke media sosial. Apalagi, kalau sampai membuka keburukan pasangan.(/modinf)
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu - Rusdi penderita hernia harus merasakan sakit berkepanjangan. Pasien pengguna jasa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, mengaku kecewa terhadap layanan badan itu. 

Rusdi adalah warga Aceh Tengah. Hanya untuk melengkapi sejumlah persyaratan administrasi, Rusdi harus bulak-balik Banda Aceh-Takegon. Sudah lebih seminggu Rusdi berada di Banda Aceh. Dari Takengon, Rusdi dirujuk untuk berobat ke Rumah Sakit Teuku Fakinah. Di rumah sakit ini, dia menjalani operasi pertama. 

Pelayanan BPJS Banda Aceh Sangat Buruk


Belum tuntas urusan di Fakinah, pihaknya dipaksa pindah ke Rumah Sakit Zainoel Abidin. Aturan dari BPJS menyebutkan masa perawatan Rusdi di Fakinah hanya berlaku selama tujuh hari. Di luar waktu yang ditetapkan itu, dia akan dikenai biaya tambahan. Padahal Rusdi masih membutuhkan operasi kedua. “Saya lantas dirujuk ke sini,” kata Rusdi di Zainoel Abidin,

Namun di Zainoel Abidin, Rusdi tak mendapatkan pelayanan yang seharusnya dia terima. Hingga saat ini, dia masih tergeletak di ruang gawat darurat. Dia harus mengantre lama untuk mendapatkan kamar. Demikian juga jadwal operasi kedua. 

Kesulitan sama juga dirasakan oleh Muhammad Aliza. Saat mengurus BPJS milik pamannya, Ichsan Harun, pihak BPJS bersikukuh pasien harus segera melangkapi berkas. Jika tidak dilakukan, BPJS tidak akan mengeluarkan asuransi. Padahal saat itu, Ichsan harus segera dirawat. 


Menurut Aliza, ada hal yang aneh ia dapatkan pada saat mengurus tersebut, ia harus menyertakan rekening listrik, jika tidak ada maka harus ada surat domisili yang menurutnya tidak ada kaitan dengan BPJS. Tak sempat mendapatkan perawatan, Ichsan meninggal dunia. Namun ini tak lantas memudahkan urusan Aliza. Jenazah pamannya tidak bisa dibawa keluar dari rumah sakit jika tidak membayar sejumlah uang jaminan ke rumah sakit. “Bahkan orang mati pun dibuat rumit di negara ini,” kata Aliza.
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu - Kegaduhan terjadi di salah satu rumah warga di Lorong Kupula Gampong Lambaro Skep Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh, Minggu (13/11) dinihari. Seorang pemuda menjadi bulan bulanan warga karena diduga mencuri pakaian dalam wanita gampong tersebut.

Pria yang ditangkap dan menjadi bulan bulanan warga tersebut karena mencuri barang 'berharga'milik wanita tersebut merupakan Iswadi (32), beralamat Gampong Alue Puteh, Kecamatan Bhaktia, Aceh Utara. Pelaku ditangkap setelah salah seorang wanita yang tengah berada di kamar mandi rumahnya merasa diintip seseorang.

Masih Maraknya Kasus Pencurian Pakaian Dalam Wanita Di Banda Aceh

Korban yang curiga akhirnya berteriak dan minta tolong kepada sekelompok pemuda yang tengah berkumpul di sekitar rumahnya. Tak ayal mendengar teriakan korban pelaku langsung mengambil langkah seribu namun naas, niatnya melarikan diri terpantau kelompok pemuda tersebut.

"Dikeremangan malam warga melihat arah pelaku lari sehingga dengan mudah menangkapnya. Kejadiannya sekira pukul 03.00 WIB, saat diserahkan kondisi pelaku sudah bonyok," kata Kapolsek Kuta Alam AKP Syukrif Panigoro, Minggu (13/11).

Menurut Syukrif meski korban mengaku tidak ada barang yang hilang, namun ditangan pelaku, warga menemukan satu set pakaian dalam wanita. Dalam pemeriksaan, petugas juga menemukan pelaku memakai celana dalam wanita warna pink yang dilapis celana short perempuan.

"Besok (Senin) rencananya pelaku kami periksa ke rumah sakit karena kondisinya seperti kurang waras. Apakah pura-pura kurang waras atau memang demikian. Karena dia tidak tahu dimana barang bukti yang disita darinya dicuri, termasuk yang ia kenakan. Yang jelas info yang kami dapat beberapa bulan terakhir wanita di kawasan itu memang resah karena sering kehilangan pakaian dalam," kata Syukrif.


Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya Iswadi yang sehari-hari menetap di Anjungan Kabupaten Aceh Utara di Komplek Taman Ratu Safiatuddin tersebut terpaksa ditahan di Mapolsek Kuta Alam.
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu- Pengembangan Objek wisata di Banda Aceh sekedar proyek gagah-gagahan. Tidak sedikit paket wisata yang lenyap setelah diluncurkan.

Pasca Tsunami, Pemko Banda Aceh gencar menggodok proses rehabilitasi dan rekonstruksi beberapa sektor dalam kota Banda Aceh, tidak terkecuali wahana baru bidang pariwisata. Berbagai macam wahana wisata dikembangkan oleh Pemko Banda Aceh, namun sayang niat baik membenahi kota itu berujung sia sia. Alhasil pengoperasian produk wisata hanya berjalan sesaat lalu menghilang seiring perjalanan waktu.

Program Objek Wisata Banda Aceh yang Gagal

Awal Februari 2016, beberapa masyarakat Kota Banda Aceh dihebohkan dengan peluncuran wahan air bertema Basket Fishing di dermaga Ulee Lheue, Meuraxa, Banda Aceh. Peluncuran yang dihadiri Walikota Banda Aceh Illiza Saaduddin Jamal itu santer dipublikasikan sejumlah media lokal.

Usai pelunculran, objek wisata baru mulai dikelola oleh nelayan wilayah Meuraxa di bawah ‘komando’ Panglima Laot. Setiap wisatawan diberi kesempatan untuk memancing di dalam boat yang disediakan sembari menikmati keindahan panorama pantai Ulee Lheue. Untuk memesannya, per orang harus merogoh kocek Rp50 ribu. Menurut warga setempat, penghasilan yang diperoleh para nelayan dari jasa sewa boat untuk kegiatan itu meningkat drastis. Sekilas, buah kerjasama yang difasilitasi komunitas ‘penggenjot’ laju rekontruksi (CoMU) antara Kota Banda Aceh dan Kota Higashimatsushima, Jepang itu sudah menunjukkan hasil.

Sayangnya, program yang telah dirintis sejak 2014 oleh beberapa nelayan terlatih tersebut hanya berjalan sesaat. Baru beberapa bulan usai di-launching, denyut aktivitas wisata pancing itu kian meredup. Bahkan, akhir-akhir ini, wisata yang terletak di belakang Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) itu kerap tidak beroperasi.

Tidak jauh beda dengan Projek Wisata yang lainnya, yaitu Water Front City Gagal. Program yang digagas oleh Alm Mawardy Nurdin saat menjabat sebagai Walikota Banda Aceh bernasib lebih parah. meski sudah digembar-gemborkan, progam Water Front City Kota Banda Aceh tak kunjung direalisasikan.

Alm. Mawardy pernah menyampaikan rencana pembangunan wahana transportasi sungai itu dalam peresmian pembersiahan dan pengerukan Krung Aceh yang di hadiri oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum RI, Mohammad Hasan. Saat itu, beliau menuturkan program Water Front City segera diwujudkan setelah pengerokan sungai selesai dilakukan.


Pembangunan Water Front City itu bertujuan untuk mendayagunakan Krueng Aceh serta anak sungai sebagi jalur transportasi air. Sehingga, ke depannya baik masyarakat maupun turis yang bertandang ke Banda Aceh dapat menikmati objek wisata berbasis transportasi air. Namun, hingga saat ini Program pemberdayaan transportasi air ini gagal diwujudkan.(/smod)
Portal Berita Terkini
Tak ada satu pun manusia yang tahu takdir kehidupan seperti apa yang akan menghampirinya. Terkadang kita berada dalam kebahagiaan, terkadang kita harus mengalami kejadian yang pahit. Seperti halnya kisah hidup yang dialami oleh pria ini.

Pemuda yang bekerja sebagai montir ini harus mengalami kisah hidup yang pahit dalam kehidupan rumah tangganya. Kisahnya pun menjadi viral setelah dibagikan dalam berbagai grup komunitas di Facebook. Dilansir dari grup komunitas Wajah Batak, kisah pilu pemuda tersebut dibagikan oleh akun Facebook bernama Bang Boy.

Dalam postingannya, Bang Boy mengunggah sebuah foto tulisan beserta gambar pria itu sedang bekerja sebagai montir. Tak diketahui dengan pasti siapa nama pria itu dan darimana dirinya berasal. Tapi yang pasti kisah tentangnya telah mengundang simpati dari netizen.



Si pemosting pertama mengatakan jika ia mendapat pelajaran berharga dari pria yang bekerja sebagai montir tersebut.

[post_ads]

Diceritakannya, pria itu menikah di usia yang masih muda, 20 tahun. Ia kemudian bekerja sebagai montir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pernikahan tersebut juga dikarunia dua orang anak. Menjadi montir, pria itu harus bekerja keras karena sang istri ternyata juga sedang menjalani pendidikan di bangku kuliah.

Selain harus menafkahi keluarga, ia pun harus membayar biaya kuliah istrinya yang ingin menjadi sarjana. Saat kuliah istri sudah selesai, wisuda pun menanti di depan mata. Tapi wisuda tersebut ternyata membutuhkan biaya yang juga tak sedikit. Ia harus membayar biaya sejumlah 10 juta rupiah. Merasa bertanggungjawab sebagai lelaki dan suami, pria itu pun bekerja semakin keras.

Akhirnya, dari hasil memeras keringatnya, pembayaran sejumlah 10 juta itu pun berhasil dilunasi. Sang istri pun bisa meraih impian menjadi seorang sarjana. Tapi malang, usaha itu ternyata tak dihargai dengan layak. Setelah menjadi sarjana, istrinya sepertinya lupa dengan pengorbanan yang telah dilakukan suaminya. Mereka justru berpisah dan tak lagi menjalin hubungan suami istri.


Kisah ini pun segera mendapat perhatian dari netizen. Banyak yang berkomentar menyayangkan sikap istrinya.  "Masih banyak wanita yg cerdas dan mulya hatinya.sabar semua ladang pahala,kalo ikhlas.amiin," tulis Dodoh Saputri. "Yg sabar bang," tulis BhuDye Pewe. "Semoga pak bro bisa ikhlas.....Smoga d limpahkan lg rezekinya.....Dn dpt istri yg lebih baik lagi. Aamiin," tulis Yuli Tasimin. "Makan kacang lupa kulitnya. Istri tak tau diri tu," tulis Lina Rezky. (/Shadow)
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu - Kota aceh mendapat julukan kota madani, tapi dibalik julukan tersebut, timbul beberapa pertanyaan dari kalangan umum. Kota Madani, Tapi kenapa masih banyak Problematika seperti masih maraknya Balapan Liar ? Akibatnya, salah seorang polisi jadi korban kenakalan para muda mudi pemuda BALI.

Banda Aceh Model Kota Madani, Tapi Balapan Liar Kerap Terjadi


Salah satu Anggota Polsek Luengbata, Bripda Ibnu Riadi (23), Minggu (24/4) sekira pukul 02.30 WIB ditabrak pembalap liar di Jalan AMD, Luengbata, Banda Aceh. Akibatnya, Ibnu Riadi mengalami patah tulang kaki kanan dan harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Zulkifli SStMk SH beserta jajarannya, Senin (25/4) menjenguk korban Bripda Ibnu Riadi di RSUZA. Zulkifli melihat langsung korban, serta menanyakan kondisi Ibnu Riadi yang harus dioperasi pasca insiden Minggu dini hari itu.

Seusai menjenguk korban, Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Zulkifli SStMk SH melalui Kasat Lantas Kompol M Junaeddy Jhonny SIK yang didampingi Kasubbag Humas Ipda Bambang Junianto mengatakan, polisi telah menangkap penabrak anggota Polsek Luengbata yang berjumlah 4 orang. Dia katakan, kejadian berawal saat sejumlah personel Polsek Luengbata dan Darul Imarah, Minggu (24/4) menggelar razia mencegah premanisme di Jalan AMD.

Menurutnya, karena tidak memiliki surat kendaraan dan spesifikasi sepeda motor yang tidak sesuai, empat pemuda yang masih berstatus siswa SMA di Banda Aceh itu nekat menerobos blokade petugas yang berdiri di tengah jalan. “Pelaku yang berboncengan langsung tancap gas dan menerobos secara zig zag untuk menghindari petugas. Namun petugas yang berdiri paling belakang terkena stang motor Supra di bagian perut,” kata dia, dan menyebut korban dan dua pelaku sama-sama terjatuh.

Lalu beberapa detik kemudian, sepeda motor Vega yang tunggangi MI yang berstatus siswa kelas 1 SMA menggilas kaki korban yang sudah terjatuh. “Pelaku yang menabrak kaki korban berhasil kabur. Dan bisa ditangkap setelah mendapat keterangan dari kawannya yang berhasil ditangkap,” kata Junaeddy.


Junaeddy mengatakan, kedua pengendara sepeda motor yaitu FA dan MI tidak bisa dihukum karena masih berusia 15 tahun. “Kedua pengendara sudah dijamin orang tuanya. Kapolresta juga mengimbau agar para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anaknya, sebab balap liar ini didominasi remaja di bawah umur,” jelasnya.(/xmod)
Portal Berita Terkini
Harapan Palsu -  Aneh tapi nyata, ya itulah yang dipandang oleh masyarakat banda aceh. Ironisnya disaat masyarakat sedang berusaha untuk mengevakuasi benda dari lokasi kebakaran, malah di situ pula Illiza (Walikota Banda Aceh) melayani masyarakat untuk berselfie, berita ini dikutip dari Harianmerdeka.com

Aksi Selfie Illiza bersama mahasiswi saat terjadi kebaran di warung samping RSUDZA
Aksi Selfie Illiza bersama mahasiswi saat terjadi kebakaran di warung samping RSUDZA
Kebakaran yang menghanguskan sejumlah warung di samping RSUDZA siang tadi menyisakan duka mendalam. Para calon Walikota Banda Aceh tampak hadir untuk menunjukkan rasa simpati kepada pemilik usaha yang hangus dilalap si jago merah.

Namun, Calon Walikota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal malah tertawa diatas penderitaan korban sambil meladeni mahasiswa yang minta selfie bersama dirinya. Aksi selfie tersebut berlangsung saat terjadi Musibah kebakaran. Warga Banda Aceh yang hadir dilokasi kebakaran mengecam keras sikap Illiza yang tidak menunjukkan rasa empati bagi korban.

Aksi Selfie Illiza bersama mahasiswi saat terjadi kebaran di warung samping RSUDZA

“Kalau cuma untuk selfie ngapain Illiza kemari, harusnya dia menolak ajakan selfie mahasiswa disaat kondisi sedang berduka, lihat-lihat momen lah, jangan dikit-dikit selfie, kami tahu Illiza memang hobi selfie, tapi tahu tempat dan waktu,” ujar Popon, warga Lampriet. Warga Beurawe, Mukhlis juga mengecam aksi selfie Illiza di lokasi kebakaran siang tadi.


“Lihatlah, dimana hati nurani Illiza, apa gak sedih para korban lihat Illiza foto-foto sambil tertawa bersama Mahasiswa, suasana lagi berduka, tidak sepatutnya Illiza berselfie di lokasi duka, gara-gara hal ini, makin hilang simpati warga terhadap Illiza, ini blunder fatal bagi Illiza yang sedang berusaha meraih simpati warga Banda Aceh” katanya.