Harapan Palsu - Destinasi wisata halal yang
dipromosikan Aceh masih sebatas label. Banyak fasilitas dan tempat wisata belum
memenuhi kriteria halal.
Ruang berukuran seluas lapangan tenis dibangun tepat
di sudut kiri Hermes Palace Hotel. Tidak jauh dari basement. Sekilas, hanya
ruangan biasa saja. Di atas pintu ruangan tertempel huruf bertuliskan Musala
Al-Muhajirin.
![]() |
| Hermes Palace Hotel |
Siang itu,
beberapa pria berkemeja sibuk membetulkan kaus kakinya di bangku petak
memanjang—seukuran dua depa—yang berada depan ruangan. Mereka baru saja keluar
dari ruangan itu. Pikiran Merdeka sempat masuk ke dalamnya. Meski dilengkapi
AC, hawa pengap tetap terasa saat memasuki pintu bercat hitam dengan gagang
almunium putih. Tiga helai musala bermotif mesjid dibentangkan memanjang.
Posisinya miring menghadap kiblat.
Banyak yang tidak menduga bahwasannya ruangan
sebesar lapangan tenis tersebut merupakan mushala. Beberapa pengunjung pun
bahakan kewalahan dan kebingunan saat berkunjung ke hotel tersebut.
“Masak seperti itu ruangnya. Di saat waktu salat
tiba, saya harus menuruni beberapa lantai hotel untuk menuju ke sana,” tutur FZ,
saat ditanyai oleh seseorang wartawan
Dia
menilai bahwasannya Hotel sekelas itu tidak layak disebut bintang empat jika
mushala nya seperti itu. Pasalnya, tata letak dan jarak mushala itu jauh dari
jangkauan pengunjung, “Ini kesannya mushala tersebut hanya dibuat seadanya.
Maunya kan harus mudah diakses, terus jangan berdekatan dengan basement. Kan ini
tempat beribadah, masa di bawah,” tutur pengunjung tersebut.
Tidak jauh beda dengan tetangganya Hotel Hermes
Palace Hotel yang juga termasuk dalam list hotel megah yaitu Hotel Grand
Nanggroe. Hotel yang berada di daerah Jalan Panglima Nyak Makam, Banda Aceh ini,
juga memiliki masalah yang sama dengan hotel hermes sebelumnya.
Dua
sample hotel yang berada di Banda Aceh tentunya berbanding terbalik dengan
promosi Destinasi Wisata Halal dan penghargaan yang didapatkan Aceh melalui
Kompetisi Wisata Halal Nasional (KPHN). Selain itu, salah satu syarat wisata
halal ialah mengedepankan pelayanan berbasis islami di segala bidang, termasuk
perhotelan.
Ironisnya lagi, Hermes Palace Hotel yang menyandang
level bintang empat tersebut sempat mengikuti ajang yang digelar oleh Tim
Percepatan Perkembangan Wisata Halal Kementrian Pariwisata, tahun ini.
Terkesan sekali, hotel-hotel di Banda Aceh belum
siap menyambut tamu yang ingin menikmati destinasi wisata halal di Aceh.
Padahal, kunjungan wisatawan ke Aceh juga terus melonjak.
Data
yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, jumlah kunjungan
wisatawan mancanegara pada Agustus naik tajam mencapai 177 persen dibanding Juli
2016 yakni dari 2.363 orang menjadi 6.552 orang.
Dalam laman web milik Disbudpar Aceh (Dinas Budaya
dan Pariwisata Aceh ), Kepala BPS Aceh Wahyuddin menuturkan, peningkataan
jumlah kunjungan ini tidak terlepas dari meningkatnya promosi dan beragam
kegiatan yang diselenggarakan di Aceh.
Ia
menjelaskan, jumlah kunjungan tersebut juga naik signifikan jika dibanding
dengan periode yang sama pada tahun 2015 dengan kenaikannya mencapai 216 persen.
“Secara kumulatif, Januari-Agustus 2016 jumlah tamu asing yang melancong ke Aceh
mencapai 28.760 orang atau meningkat 66,41 persen dibandingkan dengan periode
yang sama tahun sebelumnya,” katanya.
SUDAH MENGIMBAU
Menanggapi hal itu, Kepala
Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi tidak menapik
adanya beberapa fasilitas dan pelayanan wisata yang belum mencerminkan
nilai-nilai islami, termasuk belum terpenuhinya sarana ibadah di hotel-hotel.
Kenyataan tersebut dikarenakan pihak pengelola hotel belum sepenuhnya menyahuti
program distinasi wisata halal yang sudah dicanangkan.
Menurut Reza Fahlevi, sejak awal promosi wisata
halal, pihaknya telah berupaya mensosialisasi dan menghimbau agar sejumlah
hotel, rumah makan, dan cafe untuk segera memperbaiki fasilitas dan pelayanan
yang lebih islami untuk menuju wisata halal yang bakal dipromosikan.
“Mudah-mudahan dengan momentum adanya lebelisasi dan
sertifikasi wisata halal ini dapat mendorong mereka untuk memperbaiki. Sebuah
restoran ataupun hotel itu, ketika mau lebel halal mereka sudah harus
memperbaiki segala kualitasnya, baik dari segi makanan maupun kenyamanan,”
tutur nya disampaikan kepada teman teman wartawan
Sementara itu, terkait fasilitas musala yang erat
kaitannya dengan wisata halal Aceh tersebut, Pikiran Merdeka juga
mengkonfirmasikan kepada Ketua Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh Karim
Syeh. Sayangnya, saat dihubungi ke nomor ponsel yang biasa digunakannya, dia
mengaku bukan ketua MPU.(/smod)

Post A Comment:
0 comments: