Harapan
Palsu - Pasca 2 perhelatan akbar di Banda Aceh, yakni hari jadinya ke
811 dan tuan rumah bagi Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), juga Festival
Kopi, saya terkadang menggunakan waktu senggang untuk melihat wajah kota. Baik
sepulang kantor atau sekedar jalan pagi. menggunakan rute berbeda. Berhubung,
walau telah lama di Banda, saya tak tau persis kondisi kota di setiap
jengkalnya. Karena aktivitas saat ini hanya 3, kampus, kantor dan (sesekali) ke
Radio.
Sebenarnya, ambil waktu senggang mengelilingi kota
pernah saya lakukan, sebelum proyek-proyek tersebut dimulai. Fly over,
Underpass, dan lainnya. Kota nya indah, bahkan tergolong Green City. Tapi,
semenjak proyek dilakukan, wajah kota menjadi lusuh. Berdebu. Semaraut di
beberapa sudut. Komplit, jika cuaca terik. Tanpa awan, gerimis apa lagi
hujan.
Saya menyadari bahwa selaku Ibu Kota Provinsi, kota
Banda menjadi magnet utama warga Aceh untuk datang. Dengan berbagai tujuan,
mengadu nasib, studi, dan lain hal. Maka tak salah, jika kian tahun, pertambahan
penduduk di Banda Aceh bertambah. Volume kendaraan bertambah. Macet? Barang
pasti. Dan ini salah satu alasan kuat Pemerintah Aceh dan Kota Banda Aceh untuk
memulai proyek yang totalnya hingga triliunan rupiah.
Sempat berfikir, sampai kapan ketidaknyaman kota
berakhir? Pertanyaan ini membawa saya untuk mencari tau akan proyek yang sedang
dilakukan. Baik melalui media online maupun situs resmi pemerintah
Fly Over Sp.
Surabaya
Proyek ini adalah
proyek yang paling satir diberitakan. Seingat saya, mulai dari tahun 2013 desas
desus pembangunannya menyeruak. Namun sempat hilang isu tersebut. Ada yang
mengatakan, "itu cuma wacana, tak terealisasi" atau hal senada. Tapi, itu semua
terbantahkan ketika pengosongan salah satu toko Asecoris Handphone di Sp.
Surabaya dilakukan. Ditambah dengan mulainya besi-besi, seng dan pekerja ala
kontraktor, dengan baju berles hijau/orange, plus helm wara-wiri. Ternyata,
proyek Fly Over mulai dikerjakan.
Pembangunan Fly Over telah dipercayakan kepada PT
Jaya Konstruksi dan PT Brantas Abi Praya oleh Pemerintah Aceh. Dimana, Proyek
Multiyears tersebut menghabiskan dana sebesar Rp. 250 miliar yang berasal dari
APBN. Fly Over nantinya akan memiliki panjang 850,954 meter dengan lebar 17,5
meter yang terbagi dalam 8 bentang. Pembangunan ini juga telah dilaksanakan
tahun 2015 serta ditargetkan selesai pada tahun 2017.
Saya
kembali berfikir, mengapa Simpang Surabaya menjadi sasaran. Toh, Sp. Lamprit dan
Sp. Jambotape juga padat?
Ternyata, pemilihan Sp. Surabaya dikarenakan simpang
ini merupakan titik penting dalam sistem jaringan jalan Kota Banda Aceh (primer
jaringan jalan). Ditambah dengan lalu lintas padat merayap, maka Fly Over
(dinilai) mutlak dilakukan.
Efek
Pembangunan
Beberapa waktu
lalu, sekitar bulan Maret, banyak keluhan dari masyarakat. Seperti air PDAM yang
tersendat (putus) dan pemadaman listrik (khususnya) wilayah Sp. Surabaya dan
sekitar pembangunan Fly Over. Gangguan ini terjadi karena pemindahan
fasilitas-fasilitas umum tersebut agar memudahkan pembangunan. Selain itu, jalan
yang menyempit menyebabkan kemacetan di jam-jam sibuk (pagi - siang - sore).
Ditambah dengan debu, menjadikan wilayah ini amat tak nyaman jika kita
melewatinya.
Walau pihak penanganan proyek berkerjasama dengan
instansi terkait mengimbau agar masyarakat menghindari penggunaan jalan seputar
simpang Surabaya, tetapi warga tetap menggunakannya. Mungkin malas mutar ke
jalan lain. Jauh.
Under Pass Sp.
Beurawe (Jalan Bawah Tanah)
Jika kita berjalan dari arah Lambhuk atau Jambotape
ke arah Sp. Surabaya, maka ketidaknyaman dalam berkendaraan lebih dahulu kita
jumpai. Mengingat, proyek Under Pass (jalan bawah tanah) sedang dilakukan sejak
tahun 2015. Proyek ini sepaket dengan Fly Over. Tujuannya juga sama, menghindari
kemacetan. Untuk memudahkan pembangunan, maka Jalan T. Hamzah Bendahara, menuju
Jembatan Beurawe dilakukan penutupan sejak pertengahan April lalu. Penutupan
tepatnya dimulai dari depan Hotel Diana hingga Jembatan Beurawe.
Proyek yang ditargetkan selesai pada tahun 2017 ini
akan menghubungkan Beurawe - Kuta Alam (melalui bawah tanah), sehingga
pengendara dari arah Ulee Kareng menuju Kuta Alam tidak perlu memutar, baik
melalui Jalan memutar di Sp. Surabaya atau memutar di depan Bank Aceh capek.
Beurawe. Proyek ini telah dimulai sejak tahun 2015 dan memiliki panjang 200
meter.
Efek
Pembangunan
Jika jam sibuk
tiba, maka penutupan salah satu sisi Jembatan dua arah Beurawe dari arah Sp.
Surabaya ke arah Sp. Jambotape menyebabkan jalan sempit. berujung pada kemacetan
yang luar biasa.
Tidak hanya Fly Over dan Underpass, pembangunan
item-item di Mesjid Raya Baiturrahman, BMEC dan jembatan Lamnyong - Krueng Cut
juga berkontribusi menjadikan wajah Banda tak Indah. Semuanya dibangun ditahun
yang sama, 2015.
Pembangunan Mesjid
Raya Baiturrahman
Sempat
terjadi kontroversi terhadap pembangunan mesjid kebanggaan warga Aceh. Terutama
tidak akan ada lagi ruang terbuka hijau dan ditebangnya pohon Geulumpang atau
pohon Kohler. Pohon yang menjadi saksi akan kematian Mayor Jend. Johan Harmen R.
Kohler.
Terlepas dari kontroversi di atas, yang pasti
pembangunan berupa parkir bawah tanah, tempat wudhuk, lantai marmer dari Italia
hingga pemasangan 12 payung ala Madinah sedang dilakukan dan direncanakan akhir
Juni 2017 semuanya terselesaikan. Oya, pengerjaan ini di percayakan kepada PT
Waskita Karya. Pembangunan dan perluasan kawasan masjid Raya seutuhnya
menggunakan APBA yang berjumlah lebih dari Rp. 300 Miliar, dari total
keseluruhan Rp. 1,4 triliun.
Banda Aceh Madani
Education Centre (BMEC)
Sempat
bertanya-tanya, apa yang dibangun pemerintah dibekas lahan STM Lampineung.
Tepatnya depan kantor Gubernur Aceh. Dan ternyata, Pemko Banda Aceh sedang
membangun Banda Aceh Madani Education Centre (BMEC). Kelak, BMEC yang dibangun
secara bertahap dengan gaya modern kontemporer akan menjadi icon baru Kota
Madani. Adapun tahap awal dilakukan pembangunan Convention Center yang
ditargetkan selesai tahun 2017. Selain Convention Center, BMEC direncanakan
menjadi bangunan dengan fasilitas sarana dan prasarana lengkap, seperti
penginapan peserta pelatihan, ecopark dan fasilitas yang dapat menampung 4.000
orang.
Memaksimalkan lahan bekas STM Lampineung dengan luas
7,2 ha melalui konsep greening the city
Menjadikan BMEC sebagai kawasan dengan lingkungan
nyaman, kondusif dan edukatif. Juga untuk menciptakan kualitas daya manusia yang
baik serta mendorong percepatan perputaran ekonomi di Banda Aceh.
Adapun dana yang dibutuhkan (secara keseluruhan)
mencapai Rp. 823,49 miliar. Sedangkan tahap awal membutuhkan dana sebesar Rp. 20
miliar. Pelaksanaan poryek ini dilakukan oleh PT Usaha Sejahtera
Manikam.
Efek
Pembangunan
Jika kalian
melewati kawasan ini, harap hati-hati, karena pada belokan ke arah Lamprit dari
Lampineung, akan ada lobang di jalan, efek dari keluar masuknya mobil berat,
panjang dan lebar.
Pembangunan Jembatan Lamnyong dan Krueng CutTidak
hanya di jam sibuk, jembatan ini memiliki jadwal macet musiman. Yakni saat
penerimaan mahasiswa baru dan wisuda. Maklum, dua universitas ternama di
seberang jembatan, UIN Ar-Raniry dan Unsyiah.
Sebenarnya pemerintah telah melakukan antisipasi
kemacetan, dengan cara menyekat jembatan (bagian tengah) yang melintasi Krueng
Aceh. Bisa dikatakan berhasil, tapi macet tetap saja terjadi. Oleh karenanya,
penambahan jembatan Lamnyong mesti dilakukan. Begitu juga jembatan Krueng Cut,
dikarenakan sempit.
Pengerjaan proyek jembatan Lamnyong dipercayakan
kepada PT Waskita dengan menggunakan APBN 2015-2016. Jumlah dananya juga tak
main-main, yaitu 89,202 Miliar. Sedangkan pelebaran jembatan Krueng Cut
dipercayakan kepada PT Adhy Karya dengan dana 71,985 Miliar dari APBN
2015-2016.
Efek
pembangunan
Ada beberapa kali
saya melintas jembatan Lamnyong dan Krueng Cut. Alhamdulillah lancar. Hanya saja
bagi yang menjadikan daerah ini spot memancing, harus rela berganti tempat. Kita
juga mesti hati-hati, karena kendaraan besar dan lebar senantiasa
melintas.
Ketidaknyamanan ini menjadi konsumsi warga hingga
penghujung 2017. Mari kita do'akan agar tidak ada mark-up dan proyek-proyek
raksasa tersebut selesai sesuai target. Maka siap-siaplah, wajah Kota Banda Aceh
berubah semakin eksotis dan (tentu) nyaman. (/xmod)





Post A Comment:
0 comments: